Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

Fana’ dan Hulul


Duh, penganugerah bagi si pemegang karunia

Terhadap diri-Mu dan diriku begitu aku terpada

Kau buat begitu dekat diriku dengan-Mu, sehingga

Kau adalah aku, begitu kukira

Kini dalam wujud diriku menjadi sirna

Dengan-Mu aku kau buat menjadi fana

Aku yang kucinta

Dan yang kucinta Aku pula

Kami dua jiwa padu jadi Satu

Dan jika kau lihat aku

Tampak pula Dia dalam pandanganmu

Dan jika kau lihat Dia

Kami, dalam pandanganmu tampak nyata

Kau antara kalbu dan denyutku, berlalu

Bagaikan air mata menetes dari kelopakku

Bisik-Mu pun tinggal dalam relung hatiku

Bagai ruh yang hulul dalam tubuh jadi satu

Maha suci Dzat yang menyatakan nasut-nya

Dengan lahut-nya , yang cerlang seiring bersama

Lalu dalam mahluk-Nya pun tampak nyata

Bagai si peminum serta si pemakan tampak sosok-Nya

Hingga semua mahluk-Nya melihat-Nya

Bagai bertemunya dua kelopak mata


"sufi"

oleh Muhammad Yusuf Ilyas Rasyid pada 6 Januari 2011 pukul 0:46

Pendakian Jiwa (Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 3901)


Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insaan.
Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insaan, untuk membumbung bersama para malaikat yang direstui;
bahkan dari tingkat Malaikatpun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Allah.
Ketika Jiwa Malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkan aku tiada ! Karena Ketiadaan Membisikkan nada dalam telinga,
“Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”


oleh Muhammad Yusuf Ilyas Rasyid pada 6 Januari 2011 pukul 0:48

THE POWER OF LOVE


Kamu kusut sekali, benang!
mungkin mataku buram tuk telusuri lubang cintamu,jarum!
I need you!
So Do I!

Apa yg mau kamu tempa, hai palu
tanpa kehadiranmu, aku diam 'ter- "kamu", hai paku!

aku tak sanggup tuliskan apa-apa jika kau tak ada, hai tinta
aku siap kau hisap agar kita tuliskan cinta, hai pena!

betapa banyak memaksamu agar kau "muhammadkan" perjuanganmu
betapa banyak mendiktemu agar kau"ibrahimkan" perjalanan sahara jihadmu
tapi sayang tak ada yang mau menjadi tinta khadijahmu
dan jarum siti hajarmu
atas dasar rayuan angin kebebasan yang selimuti ego
rabunkan cahaya cinta bertenaga tak terhingga

benang, kau akan terurai dari keruwetan
di tangan berkeringat pengorbanan cinta

bukan penjara bukan karantina
cahaya cinta berada
di kebebasan angkasanya
ia bertenaga saat membebaskan dari kungkungan selain cinta

kita akan bersatu, kata paku dan palu
kita akan bersama, kata pena dan tinta
bernyanyi bersama untuk saling membebaskan

aku cinta kau jika kau bertenaga menghantam kepala taqdirku
hingga tertancap aku di arena cinta
aku siap kau hisap dan kau tuangkan di buku sejarah
itu kesejatian cintaku sebagai tinta, hai pena!
Tak usah kau ragu hisap aku dan tuangkan di mana saja
jika kau benar-benar memahami cinta sang Maha Cinta..

oleh Muhammad Yusuf Ilyas Rasyid pada 25 Desember 2010 pukul 19:43

Senandung Lirih "NUMATA"

Hey,,
apa Kabar sayangQ..
aku memikirkanMu,,
sejak sekian Lama..
perspisahan itu,,

berjalannya sang wkTu..
masih Q simpan namaMu..

BernyanyiLah...
na na na na...
waLau pedih...
na na na na......

dengar senandung Lirih ini,,
membisikkan namamu selalu..

Hey..
siapa Yang menjagaMU...
Di geLapnya malammu..

biLa hangat tak terasa,,
PIkirknLah aku..

meski Pada akHirnya..
kita tak pernah Bersatu...

ketiadaan ini menyiksaQ,,
saat semua berarah kepadaMu...

Selasa, 10 Januari 2012

"Merindu Waktu"


‎" Merindu Waktu "

Antaranya jeda melintas sekelebat bayang
duduk di jendela penantian
menerawang fikir cipta jejak kelak
berkanopi suci beratap teduh
ruang terhias bianglala
berharap mengecup jemari mesra purnama
mendekap rasa sebegitunya erat
dalam batas yang tak terhingga

Aku yang merindu waktu
bergelak manja belaian kasih
dalam canda dan airmata
bahkan dalam sunyi
ronamu terlukis manis
dalam senyum sewarna merah jambu
meresap dalam helai helai rindu

Engkau hadir di antara lusuhku
engkau datang dalam kesederhanaanku
sebagai penggembala matahari
dengan kidung rindu pelepuh sukma
larut dalam tasik membiru
engkau petik bunga cahaya
pati wewangi surga
engkau sematkan di setiap sendi kehidupanku
untuk bercocok di ladang jiwa

‎" Merindu Waktu "



‎" Merindu Waktu "

Antaranya jeda melintas sekelebat bayang duduk di jendela penantian menerawang fikir cipta jejak kelak berkanopi suci beratap teduh..
 ruang terhias bianglala berharap mengecup jemari mesra purnama..
mendekap rasa sebegitunya erat dalam batas yang tak terhingga..

Aku yang merindu waktu bergelak manja belaian kasih dalam canda dan airmata bahkan dalam sunyi ronamu terlukis manis dalam senyum sewarna merah jambu meresap dalam helai helai rindu..

Engkau hadir di antara lusuhku..
engkau datang dalam kesederhanaanku sebagai penggembala matahari..
dengan kidung rindu pelepuh sukma larut dalam tasik membiru engkau petik bunga cahaya pati wewangi surga engkau sematkan di setiap sendi kehidupanku untuk bercocok di ladang jiwaMu,,